Selamat datang di website resmi Rumah Sakit dr. Soekardjo

Fenomena penyakit paru kronis di kalangan masyarakat dewasa ini cukup banyak, seperti data yang diperoleh dari WHO bahwa di Asia Pasifik ada 56,6 juta jiwa mengalami penyakit paru obstruksi kronis (PPOK). Sementara itu data dari RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya yang kami peroleh dari SMF Penyakit Dalam, tercatat ada 122 kasus pasien yang menderita PPOK pada tahun 2016, angka tersebut menduduki peringkat kesepuluh jajaran penyakit untuk pasien-pasien yang berobat ke dokter penyakit dalam. Memperingati Hari Penyakit Paru Kronis Sedunia atau World COPD Day yang tahun ini jatuh pada tanggal 19 November 2017, masyarakat diharapkan lebih mengenal penyakit ini sehingga lebih peduli untuk menjaga kesehatan paru.
Ditemui di sela-sela kesibukannya, dr. Yudi Purnama Nugraha, salah satu dokter umum di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, bersedia berbagi informasi mengenai penyakit PPOK, menurutnya PPOK adalah penyakit paru yang berupa hambatan aliran udara pada saluran nafas yang sifatnya kronis. PPOK umumnya merupakan kombinasi dari dua jenis gangguan pernapasan, yaitu bronkitis kronis dan emfisema. Bronkitis adalah infeksi pada saluran udara menuju paru-paru yang menyebabkan pembengkakan dinding bronkus dan produksi cairan di saluran nafas yang berlebihan. Sedangkan emfisema adalah kondisi rusaknya kantung-kantung udara pada paru-paru.
“Pada tahap-tahap awal, PPOK jarang menunjukkan gejala atau tanda khusus. Gejala-gejala penyakit ini biasanya akan muncul ketika sudah terjadi kerusakan yang signifikan pada paru-paru. Gejala PPOK diantaranya adalah batuk kambuh-kambuhan yang bisa berlangsung lama, munculnya dahak, sesak nafas dan menjadi mudah lelah.” Ujar dokter Yudi.
Dokter Yudi menuturkan, salah satu penyebab PPOK yang paling sering adalah asap rokok. Perokok aktif yang sering menghisap asap rokok langsung dan perokok pasif yaitu orang-orang yang tidak merokok namun sering terpapar asap rokok sama-sama beresiko terjangkit PPOK. Faktor lain yang bisa menyebabkan PPOK adalah paparan asap kendaraan bermotor, polusi udara dan kimia di lingkungan industri, riwayat infeksi pernafasan berulang serta faktor genetik. Asap rokok dan polusi udara bahkan bukan hanya dapat menyebabkan PPOK namun bisa sampai menyebabkan penyakit yang lebih berbahaya yaitu kanker paru karena mengandung zat-zat karsinogenik atau pemicu kanker. Agar paru-paru kita sehat, maka udara yang kita hirup pun harus bersih dan bebas polusi.
Dokter Yudi menambahkan bahwa saat ini ada salah satu kegiatan bagus dan bermanfaat yang sedang digembor-gemborkan oleh Kementrian Kesehatan termasuk juga oleh Instalasi PKRS (Promosi Kesehatan Rumah Sakit) di RSUD dr. Soekardjo yaitu Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau disingkat sebagai GERMAS. GERMAS adalah program pemerintah untuk terus meningkatkan kesehatan seluruh warga negara Indonesia dengan berbagai upaya antara lain mengajak masyarakat untuk melakukan aktifitas fisik, mengonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, memeriksa kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan serta menggunakan jamban. Menurut dokter Yudi, GERMAS adalah sebuah program yang sangat bagus, karena masyarakat bisa membiasakan diri untuk hidup lebih sehat dan juga bisa menurunkan resiko terjadinya berbagai macam penyakit, salah satunya adalah penyakit PPOK. Kegiatannya pun tidak sulit untuk dilakukan karena bisa dimulai dari diri kita sendiri, lalu ke keluarga kita, dilanjutkan ke lingkungan tempat tinggal kita, hingga nantinya diharapkan dapat diterapkan oleh seluruh lapisan masyarat Indonesia. “Semoga nantinya masyarakat Indonesia bisa menjadi masyarakat yang semakin sehat dan terbebas dari berbagai macam penyakit.” Ucap dokter Yudi. (Kosdinar/PKRS/Adv)***

 

Related Post