Selamat datang di website resmi Rumah Sakit dr. Soekardjo

Berbicara pendengaran, berkaitan erat dengan bagian vital tubuh karena pendengaran merupakan salah satu panca indra. Dengan pendengaran yang baik, maka seseorang bisa berkomunikasi dengan baik dan menjalankan kehidupannya dengan normal. Begitu pula jika seseorang mengalami gangguan dalam pendengarannya, maka komunikasinya pun akan terganggu.

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran Nasional yang jatuh pada 3 Maret atau bertepatan dengan hari ini, 3 Maret 2018. Di Indonesia, angka gangguan pendengaran dan ketulian terbilang tinggi. Berdasarkan data organisasi kesehatan dunia WHO, pada tahun 2000 sejumlah 250 juta (4,9%) penduduk dunia mengalami gangguan pendengaran, 50%-nya berada di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

Berkaitan gangguan pendengaran dan ketulian, spesialis telinga hidung tenggorokan (THT)-Bedah Kepala Leher yang juga Ketua Komite Daerah Penanggulangan Gangguan Pendengarandan Ketulian (PGPKT) Kota Tasikmalaya, dr. H. Farid Wajdi,Sp.THT-KL yang juga salah satu dokter spesialis THT di oliklinik THT RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya menuturkan bahwa penyebab ketulian yang dapat dicegah, gangguan telinga terbagi 5 jenis yaitu Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau congek, kongenital atau tuli sejak lahir, tuli akibat bising, presbikusis atau tuli orangtua, dan serumen atau kotoran telinga.

Dijelaskan dr. H. Farid, kongenital atau tuli sejak lahir sebenarnya bisa dicegah dengan edukasi ke ibu hamil. Namun, jauh sebelum kehamilan, seseorang remaja perempuan perlu divaksin Rubella untuk menghindari Virus TORCH, yang mana salah satunya bisa menyebabkan ketulian. “Pravalensinya (ketulian dari lahir) cukup tinggi, makanya, sebelum hamil harus divaksin. Jadi, remaja perempuan 9 tahun ke atas divaksin Rubella untuk mencegah gangguan pendengaran, disamping mencegah gejala-gejala lainnya, “katanya.

Untuk gejala kotoran telinga, bisa terjadi pada semua usia. Namun, kata dr. H. Farid, gejala tersebut akan sangat mengganggu jika terjadi pada anak usia sekolah. “Kotoran bisa menyumbat pendengaran. Jika itu terjadi pada anak usia sekolah, gangguan pendengarannya akan sangat mengganggu aktivitas dia bersekolah. Dia tidak akan menangkap  pelajaran dengan maksimal, daya tangkapnya juga akan terganggu,”katanya.

Untuk mencegah penumpukan kotoran telinga, maka perlu pembersihan kotoran telingan secara berkala. Kotoran tersebut dihasilkan karena dalam telinga terdapat kelenjar yang menghasilkan kotoran dan jika terus dibiarkan akan menumpuk. Seseorang bisa melakukan pemeriksaan dan pembersihan ke dokter THT setiap 6 bulan sekali. Apabila kotoran telah dibersihkan di THT, maka seseorang bisa merawatnya dengan membersihkan sendiri kotoran seperti setelah mandi atau sebagainya, dengan menggunakan kapas namun tidak boleh terlalu dalam. Hindari mengorek telinga dengan benda runcing seperti peniti, pena, pensil, penjepit rambut atau korek api untuk membersihkan atau menggaruk telinga serta hindarilah menetesi telinga dengan cairan yang tidak semestinya.

Gangguan pendengaran lainnya karena infeksi telinga tengah yang disebabkan pecah gendang telinga. Selain diobati, gendang telinga bahkan bisa dioperasi untuk menambal gendang telinga pecah. “Namun untuk di Tasik belum ada, (operasi penambalan gendang telinga) masih perlu ke (rumah sakit di) Bandung, “katanya.

Gangguan pendengaran tersebut juga bisa disebabkan karena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). “Bagi seseorang usia anak-anak, jika terjadi batuk pilek sering kali komplikasi ke kuping dang mengganggu pendengaran. Makanya, kalau anak kecil kalau dibawah 5 tahun pans tinggi, batuk pilek nggak sembuh-sembuh, harus dilihat telinganya karena takut lebih lanjut mengganggu sistim pendengarannya,”katanya.

Dijelaskan dr. H. Farid, ISPA bisa mengganggu sistem pendengaran karena telinga, hidung dan tenggorokan atau THT memiliki saraf yang tersambung. Karena itu indra penciuman, perasa dan pendengaran terhubung satu sama lain dalam satu saluran.”Makanya, kadang-kadang orang pilek akan sakit pendengarannya,”tuturnya.

Untuk menghindari gangguan tersebut, jangan pernah menampar telinga seseorang karena dapat merusak organ pendengarannya. Jika terdapat infeksi telinga atau congek, maka harus diperiksakan ke dokter THT untuk dilakukan pengobatan demi mencegah gangguan pendengaran lanjutan.

Pencegahan gangguan pendengaran lainnya yaitu meminimalisasi bahkan menghindari efek kebisingan, karena tingkat kebisingan akan berpengaruh pada ketulian. Untuk mencegah efek kebisingan, maka jangan menggunakan earphone atau headset dalam waktu yang lama dan gunakan alat pelindung pendengaran atau ear plug/ear muff untuk mengurangi tingkat kebisingan jika seseorang berada di tempat dengan tingkat kebisingan yang tinggi.

“Pakailah pelindung telinga jika berada di tempat yang bising seperti orang bekerja di pabrik, di tempat hiburan, dan sebagainya. Lalu batasi penggunaan earphone dengan tidak menghidupkan volume secara maksimal dan batasi lama penggunaannya, hanya setengah hingga 1 jam saja. begitupun dengan tempat dengan kebisingan yang tinggi lainnya, telinga perlu dilindungi dengan ear plug atau ear muff,”tuturnya.

Sementara gangguan pendengaran karena faktor usia akan terjadi pada orang tua dengan usia 55 tahun ke atas. “Apalagi kalau ada (orang tua) dengan penyakit diabetes, darah tinggi, atau sebagainya akan memicu gangguan pendengaran, maka orang tua perlu menggunakan alat bantu pendengaran,”kata dr. H. Farid. Lebih lanjut dr. H. Farid mengatakan, gangguan pendengaran pada orang lanjut usia adalah hasil kumulatif dari usia muda, maka dia akan cepat mengalami penurunan daya pendengaran,”katanya.

Menurut dr. H. farid, gangguan pendengaran pada usia lanjut usia akan mengganggu kualitas hidupnya. “Orang usia lanjut yang terganggu pendengarannya akan memengaruhi kualitas hidupnya. ia tidak bisa mendengarkan pengajian, tidak dapat berkomunikasi dengan anak cucunya, tidak bisa bergembira pada hari raya dan lain sebagainya,”katanya

Makanya, kata dr. H. Farid, apabila gangguan pendengaran terjadi pada orang tua, maka perlu dilakukan adalah sosialisasi dari keluarganya, karena orang tua harus lebih diperhatikan. “Karena kalau gangguan pendengaran pada orang tua itu kelainan saraf, tidak bisa sembuh karena itu degeneratif. Jadi, kalau sudah menurun daya pendengarannya maka perlu dibantu alat pendengaran,”tuturnya.

Pencegahan gangguan pendengaran juga disosialisasikan pleh PGPKT yang merupakan lembaga yang berkiprah dalam menanggulangi dan mencegah terjadinya gangguan pendengaran masyarakat Indonesia. PGPKT Kota Tasik setiap tahun gelar bersih-bersih telinga dan pemeriksaan kesehatan pendengaran serta pemberian bantuan pelindung pendengaran di berbagai sekolah dan di tengah masyarakat. (Aji MF/Adv)***

 

Related Post