Selamat datang di website resmi Rumah Sakit dr. Soekardjo

Fenomena obesitas ( kegemukan ) pada anak di Indonesia sudah jadi pandemic (marak). Obesitas pada anak akan berdampak buruk pada kesehatan di masa depannya. Beberapa penyakit berbahaya akan mengintai seiring dengan bertambahnya usia anak tersebut.

Dewi Patriani, Sp.A. disela-sela aktifitasnya menjelaskan bahwa kesehatan anak tentunya dipengaruhi oleh aspek nutrisinya. Malnutrisi pada anak tidak selalu gizi kurang atau gizi buruk, tetapi malnutrisi juga bisa karena faktor gizi berlebih yang masuk ke dalam tubuh anak. Gizi lebih dapat mengakibatkan obesitas pada anak.

Seorang anak dikatakan obesitas jika Indeks Massa Tubuh (IMT)-nya lebih dari 30. Sedangkan jika IMT seseorang anak lebih dari 25, hal ini disebut dengan gizi lebih ( Over Weight ). “Jadi tidak hanya berat badan dan umur saja yang dilihat , tapi juga dilihat dari tinggi badannya”, jelas dr. Dewi. Jika seorang anak kegemukan dan dengan tinggi badan yang pendek, maka prognosisnya akan lebih buruk dibandingkan anak dengan tinggi badan standar seperti anak-anak pada umumnya.

Menurut dr. Dewi pada prinsipnya seorang anak dengan IMT ideal mempunyai energi masuk dan energi keluar yang seimbang. Jika seorang anak mempunyai energi masuk lebih besar dibandingkan energi keluarnya, maka anak tersebut bisa mengalami obesitas.

Obesitas pada anak lebih banyak diakibatkan oleh asupan makanan yang tidak sehat, misalnya junk food. Junk food jika dikonsumsi terlalu sering oleh anak bisa mengakibatkan obesitas. “Misalnya kentang goreng lebih banyak mengandung kalori dibandingkan dengan kentang rebus/kukus”, ujar dr. Dewi.

Selain pola makan obesitas juga bisa diakibatkan oleh pola hidup yang kurang baik. Misalnya anak-anak yang lebih senang bermain gadget akan lebih rentan mengalami obesitas dibandingkan dengan anak-anak yang senang bermain diluar dengan aktifitas fisik. Oleh sebab itu pola asuh orang tua juga harus diperhatikan. “Usahakan orang tua mengajarkan anaknya untuk melakukan aktifitas fisik, misalnya membiarkan anak berangkat sekolah dengan berjalan kaki atau mengendarai sepeda, dan sebagainya”, lanjut dr. Dewi.

Anak dengan obesitas cenderung akan mengalami obesitas juga pada saat mereka dewasa. Menurut dr. Dewi yang dikhawatirkan dari obesitas adalah Syndrome Metabolik yaitu metabolisme di dalam tubuhnya terganggu. Biasanya paling berpengaruh pada penyakit-penyakit kardiovaskular, misalnya penyakit jantung coroner, hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, penyempitan pembuluh darah dijantung, dan penyakit-penyakit dyslipidemia  yaitu kondisi kolesterolnya diatas normal. Penyakit-penyakit tersebut bisa menyerang anak-anak obesitas ketika mereka sudah dewasa.

Anak perempuan yang mengalami obesitas akan beresiko mengalami Infertilitas (gangguan kesuburan) pada saat mereka dewasa. Anak- anak dengan obesitas biasanya akan mengalamni Sleep Apnea. Dimana Sleep Apnea ini saluran pernafasannya tertekan oleh lamak dan dapat beresiko mengalami henti nafas seketika.

Anak yang obesitas kualitas hidupnya cenderung tidak sebaik anak-anak normal. Jika seorang anak mengalami obesitas yang tidak terlalu ekstrim, dr. Dewi menyarankan orang tua bisa menekan agar kenaikan berat badannya tidak terlalu cepat dengan mengurangi asupan energinya. Misalnya dengan pemilihan jenis makanan yang sehat, aktifitas diluar rumah ditambah dan diusahakan anak tersebut dalam sehari melakukan aktifitas berjalan kaki atau bersepeda. Dewi menambahkan faktor genetik tidak terlalu berpengaruh pada anak untuk mengalami obesitas, kecuali anak tersebut mengalami kelainan kromosom. Faktor terbesar anak mengalami obesitas adalah karena asupan makanan yang berlebih.

Untuk mensiasati anak agar mengkonsumsi makanan sehat, para orang tua harus cerdik dalam mengolah makanan. Misalnya sayur-sayuran dan buah-buahan bisa dimodifikasi agar anak lebih tertarik untuk memakannya. Orang tua juga harus bisa mengajarkan anaknya untuk mengurangi junk food dan soft drink.

Related Post